Selamat Datang di Website Kami..

Blog ini menceritakan tentang pengalaman saya sebagai SEKURITI..memang dibuat karena saya bekerja sebagai security,sekuriti atau satpam..
Karena yang membuat hanya seorang security, maka banyak sekali kekurangan yang ada.
Untuk itu sumbangsih saran dan pesan dari pembaca sangat kami harapkan..
Kami sangat berbahagia atas kunjungan Anda di blog ini.

TERIMA KASIH

Kamis, 23 September 2010

Rancangan Pengamanan

oleh: Dadang Sudiadi
Desain pengamanan merupakan mekanisme pencegahan kejahatan, yang kehadirannya sangat penting untuk mengupayakan agar kejahatan tidak terjadi, sehingga kerugian yang diakibatkannya dapat diminimalisasi atau bahkan dihilangkan. Untuk dapat melakukan desain pengamanan (security design) dengan baik dan komprehensif, yang pertama harus dilakukan adalah mengetahui alasan utama dari penyusunan desain tersebut. Dalam arti, kita harus mengetahui alasan pentingnya penyusunan desain dan tujuan akhir dari penyusunan desain tersebut. Karena itu kita harus mengetahui kondisi dan situasi keamanan dan pengamanan saat ini serta perkiraan potensi ancamannya. Untuk dapat mengetahui hal tersebut, langkah utama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan data dan fakta tentang kejahatan yang terjadi, kualitas serta kuantitas pengamanan saat ini serta kondisi dan situasi lingkungan sekitar.
Dalam konteks perbaikan sistem pengamanan, semestinya pengumpulan data dilakukan dengan berbasis laporan harian yang kemudian akan menjadi laporan bulanan dan tahunan. Laporan seperti ini sangat penting dilakukan, karena perencanaan desain dan implementasi desain serta evaluasi desain harus didasarkan pada keadaan saat ini. Setelah data tersebut terkumpul, langkah yang harus dilakukan kemudian adalah menganalisis data tersebut untuk kemudian merumuskan desain. Clarke (1997) dalam bukunya Situational Crime Prevention, menyampaikan bahwa untuk menyusun suatu desain pengamanan dilakukan dengan menggunakan The Action Research Methodology.
Setelah menganalisis fakta dan data tentang ancaman faktual dan potensi ancaman, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis kondisi situasional yang memungkinkan dilakukannya kejahatan. Seperti, kualitas barrier, kemampuan peralatan elektronik untuk pengamanan, kemampuan personel sekuriti, termasuk jumlah dan kualitasnya, setting ruangan fisik, serta ruangan yang memungkinkan dilakukannya pengawasan.
Data menunjukkan bahwa potensi ancaman akan menjadi nyata jika ditunjang dengan peluang atau kesempatan yang tersedia. Karena itu, data tentang profil kejahatan di suatu tempat dan kondisi tertentu sangat diperlukan untuk bahan dasar penyusunan design security. Clarke mengatakan terdapat empat kelompok teknik penurunan kesempatan dilakukannya kejahatan, yaitu Increasing Perceived Effort, Increasing perceived risks, Reducing Anticipated Rewards, dan Removing Excuses.
Secara situasional bila keempatnya telah terimplementasi maka diharapkan pencegahan kejahatan dengan mengintervensi peluang dilakukannya kejahatan, dapat terlaksana. Namun, desain fisik saja tidak cukup untuk menanggulangi kejahatan, khususnya dalam konteks mencegah terjadinya kejahatan. Oleh karena itu, peran aktif anggota komunitas, termasuk di dalamnya karyawan suatu perusahaan, sangat penting.

Tingkat Pengamanan
Tentunya kita menginginkan suatu desain pengamanan yang akan menghasilkan perlindungan maksimal, baik terhadap orang, barang maupun bukti dan keterangan. Dalam konteks ini Gigliotti dan Jason (1984) dalam bukunya Security Design For Maximum Protection mengemukakan bahwa terdapat lima level pengamanan fisik, yaitu Minimum Security, Low-level Security, Medium Security, High-level Security dan Maximum Security.
Minimum security; suatu sistem didesain untuk menangkal (impede) kegiatan eksternal yang tidak diharapkan. Pengamanan di tingkat ini biasanya dilakukan di perumahan, dengan menggunakan penghalang-penghalang fisik yang sederhana, seperi pintu dan jendela biasa yang dilengkapi dengan kunci-kunci biasa.
Low-level security; mengacu pada suatu sistem yang didesain untuk menangkal dan mendeteksi kegiatan-kegiatan eksternal yang tidak diharapkan. Pengamanan di tingkat ini, telah menggunakan kunci yang tingkat pengamanannya tinggi, menggunakan halangan atau pembatas pengamanan fisik dasar, penerangan yang sederhana, dan menggunakan sistem alarm dasar.
Medium security; sistem pengamanan yang didesain untuk menangkal, mendeteksi dan menilai tindakan-tindakan eksternal yang tidak diharapkan dan beberapa tindakan internal yang tidak diharapkan. Pengamanan di tingkat ini telah memenuhi kriteria yang seharusnya dipenuhi untuk minimum level dan low-level security, dengan menggunakan sistem alarm dengan remote control yang baik, pembatas dan penghalang fisik yang tinggi daya pengamanannya, dan petugas pemantau dengan kemampuan komunikasi dasar.
High-level Security; sistem pengamanan yang didesain untuk menangkal, mendeteksi, dan menilai banyak tindakan-tindakan eksternal dan internal yang tidak diharapkan. Pengamanan pada tingkat ini telah menggunakan CCTV, Perimeter sistem alarm, personel yang terlatih dengan kemampuan komunikasi yang baik, access control, penerangan yang sangat baik, koordinasi dengan penegak hukum lokal, dan perencanaan formal tentang keadaan darurat.
Maximum security; suatu sistem yang dirancang untuk menangkal, mendeteksi, menilai, dan menetralisasi seluruh tindakan-tindakan eksternal dan internal yang tidak diharapkan. Pengamanan di tingkat ini sudah menggunakan sistem alarm yang sangat canggih, dan menggunakan personel yang sangat terlatih dan memiliki kemampuan responsif yang sangat baik, selain menggunakan teknologi pengamanan yang dipergunakan di high-level security.

Sekuriti Itu Cerdas
Untuk dapat menghasilkan sistem pengamanan maksimum yang baik akan sangat tergantung dari perencanaannya. Dua pertanyaan penting berkenaan dengan perencanaan ini adalah apakah yang akan dilindungi dan seberapa pentingkah perlindungan tersebut. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut di atas, kita memerlukan data yang lengkap tentang kondisi existing pengamanan, ancaman faktual yang terjadi saat ini (jenis kejahatan dan profil kejahatannya serta pelaku dan modus operandinya, juga sasaran kejahatannya) serta peluang yang tersedia saat ini. Sebagai gambaran dapat dijelaskan bahwa Struktur sosial ekonomi, yang terdiri dari demografi, geografi, industrialisasi, urbanisasi, kesejahteraan, kesehatan, kebijakan pendidikan dan institusi hukum dan politik, mempengaruhi terbentuknya life style atau aktivitas rutin seperti kesenangan, pekerjaan, belanja dan kepemilikan tempat tinggal. Serta lingkungan fisik, seperti bentuk perkotaan, tipe perumahan, teknologi komunikasi dan kendaraan.
Keduanya akan sangat dipengaruhi oleh keberadaan dan kinerja pengamanan. Apabila pengamanan, pengawalan, pengawasan dan penjagaannya kurang maka akan memunculkan struktur kesempatan dilakukannya kejahatan. Sehingga akan menghasilkan korban kejahatan (perempuan yang sendirian, pemabuk, dan orang asing), target kejahatan (mobil, bank, toko) dan alat bantu kejahatan (senjata, mobil, obat-obatan terlarang, dan alkohol). Karena itu, mengintervensi peluang merupakan upaya yang dapat dilakukan oleh pendekatan situasional untuk mencegah terjadinya kejahatan.
Membuat desain pengamanan harus dilakukan dengan mendasarkan pada kebutuhan dan kondisi pengamanan serta ancaman faktual terhadap objek tertentu. Sehingga desain pengamanan tersebut bersifat kontekstual, tergantung dari waktu, tempat dan jenis kejahatan yang terjadi. Mendesain Physical Barriers, seperti pintu gerbang, pintu kantor, pintu rumah, atap, lantai, dinding, pagar, harus dilakukan untuk diarahkan agar calon pelaku kejahatan, mempersepsikan bahwa calon sasaran kejahatannya sangat berisiko dan memerlukan upaya yang tidak mudah.
Begitu juga dengan teknologi dan sistem penguncian. Sistem alarm yang mumpuni, baik dalam konteks sistem operasinya, sistem monitoringnya, sistem pencatatannya, dan sistem pemeliharaannya. Sistem alarm ini akan bemanfaat untuk melakukan penangkalan dan deteksi. Electronic device lainnya, seperti CCTV, access control, check point, dan lainnya, juga sangat penting keberadaannya untuk menghasilkan desain sekuriti yang dapat melindungi secara maksimal pula.
Namun, peralatan atau teknologi device serta penerangan yang seperti itu, akan sangat tergantung pada sumber daya manusianya, termasuk personel sekuriti, baik jumlah maupun kualitas kinerjanya. Berkenaan dengan personel sekuriti ini, perannya harus lebih diarahkan pada kemampuan mencegah terjadinya kejahatan, dari pada kemampuan mengungkap kasus kejahatan. Oleh karena itu, diperlukan personel sekuriti yang cerdas dan memiliki sense of security yang baik, sehingga yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk mendeteksi potensi ancaman dan sekaligus mengantisipasi terjadinya kejahatan. Untuk itu perlu sistem renumerasi dan penghargaan yang jelas berkenaan dengan prestasi dari para personel dan manajemen sekuriti

Penulis Adalah Krimonologi UI<kutipan>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar