Selamat Datang di Website Kami..

Blog ini menceritakan tentang pengalaman saya sebagai SEKURITI..memang dibuat karena saya bekerja sebagai security,sekuriti atau satpam..
Karena yang membuat hanya seorang security, maka banyak sekali kekurangan yang ada.
Untuk itu sumbangsih saran dan pesan dari pembaca sangat kami harapkan..
Kami sangat berbahagia atas kunjungan Anda di blog ini.

TERIMA KASIH

Minggu, 05 September 2010

Keramahan SEKURITI, karena kamera atau panggilan tugas ?

Choose the right man on the right place. Anda terkesan dengan keramahan satpam di entrance ( pintu masuk ) bank ? Saya pernah ngetes ‘perilaku ramah’ satpam bank di pusat kota. Saya coba menanyakan staf mobile banking sebuah perusahaan seluler yang tak kunjung datang, setelah 1,5 jam saya menunggu di dekatnya. Tak bisa menjawab, ia memilih memalingkan wajah menyapa pengunjung yang baru masuk. Mengintimidasi ? Oo, ada kamera CCTV di pojok sana, lebih terlihat. Satpam ini juga tiba2 ada di samping nasabah yang tak kunjung menghampiri meja customer service, ‘ramah’ mempersilakan si nasabah ‘move his ass’ ke CSR tsb. Ketika saya pulang dengan kecewa, si satpam masih perlu berbalik memunggungi, pura2 tidak melihat saya. Ia memencet tombol antri di mana tidak ada siapa pun di sana. Satpam ternyata bisa ( merasa ) superior. Di salah satu mall ( keluhan konsumen di surat pembaca ), bahkan ada yang mentertawakan pengendara mobil lama yang minta bantuan diseberangkan. Padahal bayar parkirnya setara dengan mobil mercy yang baru ia seberangkan. Bayar tidak didiskon, pelayanan didiskon. Betapa pencitraan materialistis sudah merasuki kalangan bawah. Tak heran mereka ngiler untuk merampok juga. Apakah satpam superior ini peduli jika nasabah ‘bawahan’-nya dihadang rampok ? Ia sangat mungkin sembunyi, atau bahkan tertawa. Emang gue pikirin ?
Pencitraan di depan kamera CCTV bank milik asing. Siapa mau bergaya ?
Sebagian mereka melayani demi kesan di kamera ( yang dipantau majikan/ atasannya ). Bukan dari hati. Jika punya jiwa preman, terkamuflase sementara dengan sikap dibuat-buat. Perilaku mengintimidasi tetap muncul dalam bentuknya yang lain.  Saya baru tahu, satpam lahir dari beragam jasa pengamanan yang kini marak ditenderkan. Konsumennya cenderung cari yang paling murah, bukan yang paling berkualitas. Karena proses izin ( usaha pengamanan ) relatif mudah, mereka banting harga. Balapan dapat proyek. Mengerikan, jika jasa pengamanan menjadi industri. Profit  making. Amburadul tanpa kontrol. Jadi, jangan terlalu berharap bertemu satpam yang melayani anda dengan hati ( anda cuma sarana pencitraan dia di depan bosnya, yang kini lebih banyak dipegang orang asing/ kepemilikan saham mayoritas ). Apalagi, satpam yang sanggup melumpuhkan perampok, seperti sekuriti di luar negeri ( bayar cepek, kok, pengen aman ). Please, deehh .




Satpam pun beragam kualitas. Ada yang berdedikasi tinggi pada pekerjaan, klien, nasabah yang mereka jaga. Ada juga yang merasa superior dan kerja suka2. Tugas mereka mengantisipasi kejahatan. Mata telinga bagi polisi.
( Memang, masih ada satpam yang berdedikasi, yang bahkan rela berkorban nyawa demi menyelamatkan uang nasabah. Allah memberkahi kalian ). Di Indonesia, satpam dilatih untuk mengantisipasi kejahatan. Masih tugas polisi untuk menangani kejahatan. Satpam hanya dipersenjatai pentungan untuk membela diri kalau diserang. Beladiri yang dipelajari, standar polisi menggunakan tongkat. Polisi yang melatihnya. Saya pernah mencoba ngobrol dengan 3 satpam di bank dan ruko. Ketiganya bicaranya mirip. Menekan, dan mematikan bicara kita. Boring. Ternyata, memang begitulah kriteria satpam. Tidak banyak bicara, tidak merokok, siaga terus, menjadi mata telinga bagi polisi. Kalau pergi makan, mesti ada satpam lain yang mengganti tugasnya. Calon satpam diseleksi dengan syarat psikologis, fisik, kesehatan, umur minimal 17 tahun.
Membayarlah yang pantas untuk pengamanan berkualitas.
Dengan terjadi kasus perampokan besar di beberapa tempat di tanah air akhir2 ini, jasa pengamanan satpam dan pihak bank yang menyewanya didaulat untuk memperbaiki sistem perekrutan satpam. Kualitas lebih penting demi keselamatan nasabah dan karyawan. Security approach lebih penting daripada harga. Beranilah membayar yang pantas. Wahai, bapak satpam, pertajamlah sense ( kepekaan ) intelijen anda. Satpam bersuku Jawa yang sarat unggah ungguh bahasa mungkin kurang bisa mencermati gerakan orang Batak. Jadi, perlu dilihat lokasi penempatan yang sesuai. Bank di Medan, sebaiknya menggunakan satpam asal Medan juga. Lebih bagus lagi, dari warga sekitar. Pengamanan berlapis 24 jam akan diperoleh dari warga sekitar yang lebih tahu siapa pendatang dan siapa yang residivis. Siapa yang suka ngutil. Warga juga berkepentingan terus berlangsungnya pekerjaan anggota komunitas mereka yang ditempatkan di bank tsb, sehingga keamanan bank mereka jaga ekstra.
Cara pendekatan juga diubah, jangan fisik saja. Pendekatan office kurang baik. Hubungan perusahaan/ bank dengan masyarakat sekitar harus dibina. Perlu dilakukan juga, simulasi perampokan di bank. Terutama orang2 yang ada di ruang depan, dilatih untuk mengantisipasi perampokan, atau menggagalkan tindak kriminal tsb. ( di serial film teve asing, saya pernah melihat teller dengan ujung sepatunya di bawah meja menekan alarm bahaya yang langsung tersambung dengan kantor polisi. Apakah di Indonesia, ada yang begitu ? ).
Ada nomor hotline di Medan : 0811648978. Anda bisa melaporkan info sekecil apapun tentang kejahatan perampokan. Cermati lingkungan anda, adakah keganjilan yang mengganggu insting anda ? Beritahu apa yang anda lihat, yang anda alami ( jangan mengatakan ‘o, pak, orang itu mau mencuri !’,  jangan menfitnah atau menghakimi  ). Sampaikan ke polisi terdekat  ( atau telpon call center polisi ). Polsek ( tak perlu sampai Polrestabes ) agar anda segera terlayani. Diusahakan 10 menit polisi sudah sampai ke TKP ( Tempat Kejadian Perkara ). Semua mobile.
Di Inggris dan Jepang, ada program suami-istri yang polisi, tinggal di suatu lingkungan permukiman, tidak kemana-mana. Ngantor di situ, menyiapkan rumah seperti kantornya, membina masyarakat dengan cara kekeluargaan. Dengan kedekatan itu, info sekecil apa pun akan masuk, potensi bahaya akan cepat terdeteksi. Namun, meski di Indonesia ; 7,5 juta orang menganggur, 100 juta orang miskin, keamanannya masih cukup baik dibanding Afrika. Di sana, meski semua sudah dipasangi  listrik, kejahatan masih banyak terjadi. Di Indonesia, kita masih bisa main gaplek dalam keadaan pintu terbuka. Di Filipina, dalam sehari terjadi 10 penculikan. Tapi, dengan Singapura dan Malaysia, tingkat keamanan kita memang masih kalah..
so bagaimana...??

Ditulis oleh Savitri
24 Agustus 2010 pada 16:28

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar